Menjalani keseharian sebagai tunawisma di tengah hiruk pikuk kota besar bukanlah perkara yang mudah bagi siapa pun yang mengalaminya sendiri. Terlebih lagi bagi Pak Arman, seorang pria paruh baya yang setiap hari harus berjuang keras sambil melawan kondisi jantung yang kian melemah. Baginya, setiap embusan napas adalah perjuangan untuk tetap Bertahan Hidup.
Kondisi jantung yang lemah membuat aktivitas fisik sederhana, seperti berjalan kaki menjajakan koran, terasa seperti mendaki gunung yang sangat terjal. Rasa sesak sering kali datang tiba-tiba di tengah terik matahari yang menyengat kulit keriputnya tanpa ampun setiap siang hari. Namun, semangat untuk tidak menyerah terus memacunya untuk tetap Bertahan Hidup setiap harinya.
Tanpa akses ke fasilitas kesehatan yang memadai, ia hanya mengandalkan obat-obatan sederhana dan istirahat seadanya di bawah kolong jembatan. Tidur di atas alas kardus tipis tentu bukan lingkungan yang ideal bagi seseorang dengan masalah kesehatan kronis seperti penyakit jantung. Namun, keterbatasan ekonomi memaksanya mencari cara kreatif agar bisa terus Bertahan Hidup.
Meskipun fisiknya terus digerogoti oleh rasa sakit, senyuman tulus jarang sekali lepas dari wajahnya saat menyapa para pejalan kaki lainnya. Ia percaya bahwa keramahan adalah satu-satunya modal yang ia miliki untuk mendapatkan simpati dan bantuan kecil dari orang asing. Sikap positif ini menjadi mesin penggerak utama baginya untuk bisa terus Bertahan Hidup.
Dukungan sesama komunitas jalanan juga memegang peranan penting dalam menjaga nyala semangat hidup yang hampir padam di dalam dadanya itu. Mereka saling berbagi makanan atau sekadar memberikan tempat berteduh saat hujan deras mengguyur kota dengan sangat lebat tanpa henti. Solidaritas sosial inilah yang meringankan beban berat yang ia pikul demi Bertahan Hidup.
Kisah Pak Arman adalah pengingat bagi kita semua tentang betapa berharganya kesehatan dan keberuntungan yang sering kali kita abaikan. Di balik kemegahan gedung pencakar langit, ada nyawa yang sedang bertaruh melawan takdir dengan sisa tenaga yang sangat terbatas. Perjuangannya memberikan perspektif baru tentang makna sejati dari kata Bertahan Hidup.
Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat lebih peka dalam menjangkau warga rentan yang memiliki kondisi medis khusus seperti ini. Program jaminan kesehatan yang mudah diakses tanpa birokrasi berbelit akan sangat membantu mereka yang sedang berada di titik nadir. Bantuan medis yang tepat adalah kunci utama keberlangsungan bagi mereka yang sedang Bertahan Hidup.