Tren diet semakin berkembang pesat, dan salah satu yang paling menarik perhatian adalah tren diet intermittent fasting atau puasa berselang. Metode ini tidak membatasi jenis makanan, melainkan mengatur jadwal makan. Meskipun popularitasnya meningkat, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat, membuat banyak orang ragu untuk mencobanya. Mengupas tuntas mitos dan fakta di balik diet ini menjadi penting agar masyarakat dapat menjalankannya dengan benar dan aman, demi meraih tujuan kesehatan yang diinginkan.
Salah satu mitos terbesar seputar tren diet intermittent fasting adalah bahwa metode ini menyebabkan metabolisme tubuh melambat. Faktanya, studi yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan terkemuka justru menunjukkan sebaliknya. Puasa berselang dapat meningkatkan laju metabolisme basal dan membakar lemak lebih efisien. Selama periode puasa, tubuh beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi, yang dikenal sebagai proses ketosis. Menurut ahli gizi klinis, Ibu Rina Wulandari, dalam sebuah seminar di Jakarta pada 25 September 2025, “Metode ini tidak membuat metabolisme turun, justru meningkatkan efisiensi tubuh dalam menggunakan energi.”
Mitos lain yang sering beredar adalah bahwa puasa berselang akan membuat seseorang menjadi lebih lemas dan tidak bertenaga. Kenyataannya, setelah beberapa hari adaptasi, tubuh akan terbiasa dengan pola makan baru ini. Banyak pelaku tren diet intermittent fasting melaporkan bahwa mereka merasa lebih berenergi dan fokus, terutama karena tidak ada lonjakan gula darah setelah makan. Namun, perlu diingat, asupan nutrisi selama periode makan tetap harus seimbang. Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat, Kompol Budi Santoso, dalam kunjungan ke acara edukasi kesehatan di Jakarta pada 27 September 2025, mengimbau agar masyarakat tetap berkonsultasi dengan ahli gizi sebelum memulai diet, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Tidak hanya sebatas penurunan berat badan, tren diet intermittent fasting juga menawarkan berbagai manfaat kesehatan lain. Studi menunjukkan bahwa puasa berselang dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi peradangan, dan bahkan memperlambat proses penuaan sel. Namun, manfaat ini hanya bisa diraih jika dijalankan dengan benar dan konsisten. Puasa berselang bukanlah izin untuk makan berlebihan dan tidak sehat selama periode makan.
Dengan memahami fakta-fakta ini, masyarakat dapat menjalankan tren diet intermittent fasting dengan lebih bijak. Diet ini bukan sekadar metode untuk menurunkan berat badan, tetapi sebuah gaya hidup yang dapat meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.